Bekasi, 6 Agustus 2024 - Universitas Islam 45 (UNISMA)
Bekasi menyelenggarakan acara diskusi buku yang penuh inspirasi dengan
menghadirkan penulis Amatullah Basiimah, penulis buku "Berdamai dengan
Sunyi". Acara ini menjadi wadah bagi peserta untuk merenungkan dan belajar
dari perjalanan hidup seseorang yang telah menghadapi tantangan luar biasa
namun berhasil menjadi sosok yang menginspirasi banyak orang.
Amatullah Basiimah, yang pernah meragukan dirinya sendiri
karena keterbatasannya sebagai penyandang tuna rungu, kini telah membuktikan
bahwa keterbatasan tidak harus menjadi penghalang untuk mencapai prestasi.
Dalam bukunya, Basiimah mengisahkan perjalanan hidupnya, perjuangan, dan
kebangkitannya dalam menghadapi stigma serta tantangan yang sering dihadapi
oleh kaum difabel.
"Menjadi tuli bukan berarti menjadi bodoh. Kita
semua punya potensi yang luar biasa jika kita mau terus belajar dan
berusaha," ujar Basiimah dengan penuh semangat, yang diterjemahkan oleh
Nur Indah Harahap, seorang juru bahasa isyarat berpengalaman.
Acara ini juga dihadiri oleh Dr. H. Abdul Khoir HS, Drs.,
M.Pd. selaku Wakil Rektor III, yang memberikan sambutan hangat kepada para peserta
dan narasumber. Dalam sambutannya, beliau mengungkapkan rasa bangga dan
apresiasinya terhadap Amatullah Basiimah. "Kisah hidup Amatullah Basiimah adalah bukti nyata bahwa
semangat dan tekad kuat bisa mengatasi segala keterbatasan," tutur Bapak
Khoir.
Diskusi ini tidak hanya sekedar sesi tanya jawab, tetapi
juga melibatkan berbagai aktivitas interaktif yang mengundang partisipasi aktif
dari peserta. Melalui sesi diskusi kelompok, peserta diajak untuk berbagi
pandangan dan pengalaman mereka terkait tema buku. Hal ini memberikan ruang
bagi semua untuk belajar dari satu sama lain dan menciptakan suasana yang penuh
kehangatan dan keakraban.
Amatullah Basiimah pun mengajarkan kepada peserta huruf
hijaiyah dari bahasa isyarat tuna rungu, sebuah pendekatan unik yang
menunjukkan bahwa komunikasi bisa dilakukan dengan berbagai cara, termasuk
melalui bahasa isyarat.
Nur Indah Harahap, selain berperan sebagai juru bahasa
isyarat, juga berbagi pengalamannya dalam mendukung komunikasi inklusif bagi penyandang
tuna rungu. Ia menekankan pentingnya inklusivitas dalam setiap aspek kehidupan,
termasuk di dunia pendidikan.
Diskusi buku "Berdamai dengan Sunyi" ini telah
meninggalkan kesan mendalam bagi setiap peserta yang hadir. Keberanian dan
ketekunan Amatullah Basiimah menjadi inspirasi untuk tidak menyerah menghadapi
berbagai tantangan hidup. Acara ini diharapkan dapat terus memotivasi banyak
orang untuk berani bermimpi dan berusaha keras, meski dalam keterbatasan, serta
menumbuhkan rasa empati dan kebersamaan dalam menghadapi perbedaan. (humas)




