Bekasi (20/06)-
Bertempat di gedung pascasarjana lantai 3, Fakultas Komunikasi Sastra dan Bahasa
(FKSB) menggelar acara yang penuh inspirasi dengan menghadirkan Farida Indriastuti,
seorang Jurnalis Senior DW (Deutsche Welle) TV German. Dengan pengalaman gemilangnya
selama 26 tahun di dunia jurnalisme, Farida memberikan wawasan berharga tentang
industri ini dan membahas implikasi kecerdasan buatan (AI) dalam bidang
jurnalisme.
Salah satu
produk OpenAI yang populer saat ini adalah ChatGPT. ChatGPT merupakan chatbot yang dapat menjawab berbagai pertanyaan yang diinput melalui
kolom chat. Bayangkan saja dari
membuat artikel hingga jurnal makalah lengkap dengan daftar isi dapat dilakukan
oleh mesin cerdas ini. Tidak hanya berbasis tulisan banyak produk AI lainnya
yang dapat membantu edit video dan pembuatan konten dalam waktu yang singkat.
“Teknologi kecerdasan
buatan (AI) itu keren, namun penting menjaga lokalisme dan mempromosikan humanisme digital.
Jangan terlalu menekankan AI dalam mencari informasi, kombinasikan juga dengan
aktualitas informasi,” kata Farida Indriastuti.
Farida
menyampaikan perlunya menjaga keseimbangan dalam
pemanfaatan AI dalam jurnalisme. Ia memperingatkan agar tidak terlalu
mengandalkan AI, karena hal tersebut dapat memicu penyebaran berita palsu dan
hoaks. Farida mendorong para peserta untuk mengutamakan aktualitas dan informasi
sebagai komoditas serta mengintegrasikan metode riset ke dalam pekerjaan mereka
untuk meningkatkan nilainya.
Kemudian Farida juga menegaskan komitmen
etika jurnalisme dalam pelaporan dan teknologi AI.
“Saya setuju
bahwa AI tidak boleh menjadi dasar tunggal dalam jurnalisme. Menjunjung tinggi
etika jurnalisme dan tetap menjaga sentuhan manusiawi dalam pelaporan.
Menggunakan AI secara selektif, terutama untuk tujuan investigasi yang terkait
dengan liputan berbasis lokasi,” kata Farida.
Farida
menegaskan kembali ketaatannya pada kode etik jurnalistik dan menyatakan
keraguannya untuk mengandalkan AI secara luas. Ia menekankan bahwa ia akan
memanfaatkan teknologi sesuai dengan kebutuhan tertentu, dengan memberikan
contoh penggunaan AI dalam metafarming yang dianggapnya dapat berkontribusi
dalam menjaga dan memudahkan pekerjaan.
Menanggapi kekhawatiran
mahasiswa yang hadir, Farida meyakinkan mereka bahwa mereka tidak perlu
terintimidasi oleh kemajuan teknologi. Ia mendorong mereka untuk fokus dalam
memperoleh pengetahuan dan keahlian sambil memanfaatkan AI untuk tujuan
tertentu yang relevan dengan pekerjaan mereka. Farida menyarankan agar
mahasiswa tidak melihat AI sebagai pesaing, tetapi sebagai alat untuk
meningkatkan kemampuan mereka.









